<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d28801414\x26blogName\x3dabuhukma\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dSILVER\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://abuhukma.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3den_US\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://abuhukma.blogspot.com/\x26vt\x3d5380708885081169909', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>


abuhukma

Sunday, November 25, 2007

Health Journal | Medical Equipment | Indonesian Cuisine | First Aid | Dialysis Machine | Ultrasound | Nursing Agency |

Dilema

     Belakangan ini jumlah perawat yang resign cukup signifikan, tidak diimbangi dengan kedatangan perawat baru dari Indonesia, malah sejak tahun 2004 sampai sekarang tidak ada lagi perekrutan perawat baru dari Negara kita diantara factor penyebabnya karena formalitas pihak kementrian kesehatan Kuwait dengan pihak di Indonesia yang belum beres sampai sekarang,sehingga pihak pemerintah Kuwait mengambil kebijakan untuk tidak merekrut sementara perawat dari kita selama urusan tadi belum beres, mereka lebih memilih merekrut perawat dari Negara Mesir, India, dan Pilipina. Sehingga satu persatu anggota komunitas perawat di Kuwait berguguran pulang ke tanah air dengan banyak factor, ada karena yang sudah merasa cukup bekal dengan menabung beberapa tahun di Kuwait, ada yang masa cuti diluar tanggungan bagi anggota PNS-nya sudah habis sehingga dengan terpaksa harus pulang yang jika tidak maka status PNS-nya akan hilang,ada yang memilih untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi kuliah di Indonesia dan ada juga yang ngambil program ke Australia. Ada yang pulang karena sudah lama meninggalkan anak dan suami, hidup jauh dari keluarga. Ada yang harus pulang karena secara status si wanita masih single tanpa muhrimnya bersafar dan bermukim.
     Mereka yang telah pergi bukan tanpa alasan untuk meninggalkan pekerjaannya di sini, pergi selamanya dengan meninggalkan kenangan yang entah akan kembali kesini lagi atau tidak. Saya sering menghadiri acara perpisahan teman-teman yang mau pulang lepas ke Indonesia, sedih rasanya ditinggal sama teman, terbayang kenangan suka dan duka hidup bergaul sama mereka, hanya ucapan yang bisa saya sampaikan ke mereka yang pulang, bukan selamat tinggal, tapi sampai jumpa lagi, mudah-mudahan kita dipertemukan kembali lagi di bumi Allah di lain waktu dan kesempatan, seandainya kita tidak sempat bertemu, Insha allah kita dipertemukan kembali di surganya kelak. Mereka pergi dari sini dengan pertimbangan, perenungan, pemikiran yang matang. Karena bukan hanya akan kehilangan pekerjaan di sini, tapi akan berpengaruh terhadap kehidupan dia dan keluarganya ke depan. Insha Allah mereka yang telah pergi meninggalkan kita mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya di sini di pandangan dia dan Allah SWT. Setidaknya mereka yang telah pergi, telah keluar dari kungkungan rutinitas, kejumudan dan stagnasi dari prestasi dunia. Kenapa demikian, karena selama 7 tahun kerja di Kuwait, saya tidak melihat perubahan yang signifikan , dibanding teman-teman kami di Indonesia. Kesempatan berkarir tidak ada, kita masuk posisi staff Nurse sampai resign masih posisi yang sama, dari segi pendidikan tidak ada sama sekali, dibanding teman-teman kita satu angkatan dan segenerasi, mereka sudah ada yang pendidikan sarjana, master degree keperawatan entah dari biaya sendiri ataupun dari lembaga. Sementara waktu terus berputar, tak terasa 7 tahun telah berlalu disini, kita sering bilang disela obrolan, tidak betah tinggal di sini, terbelenggu dalam rutinitas kerja pulang kerumah istirahat dalam rumah kotak, kemudian pergi kerja lagi dan terus begitu selanjutnya, waktu yang telah berlalu serasa kemarin sore, tatkala masih bujangan, hari demi hari masih terbayang dalam ingatan, bercanda ketawa tanpa beban dengan teman-teman satu batch. Satu persatu mereka bertebaran di muka bumi Kuwait, mengadu nasib dan mengais rejekinya masing-masing, memulai kehidupan baru berkeluarga dan sebagian tinggal sama temannya di hostel.
     Berat memang langkah yang harus di tempuh dan keputusan tepat yang harus di ambil kedepannya .Bagi saya dan teman-teman yang lain,inflasi dan krisis ekonomi, melambungnya harga minyak dunia berimbas kepada kehidupan ekonomi masyarakat secara umum, harga barang-barang mulai naik, tidak hanya di Indonesia, naiknya sewa flat, perumahan yang sangat tinggi kadang tidak sesuai dengan kontrak yang telah disepakati sebelumnya tiap 5 tahun. Tidak diimbangi dengan pendapatan dan inkam, kenaikan gaji pekerja ministry dan swasta hanya angin sorga yang tiap saat muncul di media masa untuk mengiming-imingi ekspat agar dengan terpaksa harus tinggal bertahan di sini, sementara anak yang semakin banyak dan besar menuntut hak-haknya, diantaranya hak mengenyam pendidikan formal yang biayanya tidak murah dan gratis.
     Tapi dibalik itu masih ada ketenangan yang saya dapatkan, kenikmatan batin yang tidak bisa diganti dengan materi dan uang, hidup tentram dan nyaman, berkumpul dengan anak istri, bercanda ria, bergurau,anak penghibur kita, pelepas kepenatan sepulang kerja, rasa cape dan lelah tergantikan dengan perasaan senang dan bahagia melihat anak dan istri menyambut kita. Ketenangan batin, ketentraman, kekhusyuan dalam beribadah, bisa sholat berjamaah 5 waktu di mesjid, ada ketentraman hati yang didapatkan, ada tambahan ilmu agama dari sheikh setelah selesai sholat, tambahan keimanan, jiwa kebersamaan bersujud dalam satu atap mesjid di atas kapret menghadap Allah yang satu. Apalagi kalau Ramadhan , terasa suasana ibadah siam dan qiyam, tidak banyak godaan seperti di tanah air, bisa mengikuti tarawih khatam 30 juz al-qurán selama sebulan ramadhan penuh, bisa khatam beberapa kali tilawah al-qurán, bisa mengikuti itiqaf 10 malam terakhir untuk menjemput lailatul qodar, setiap masjid semarak di penuhi dengan hamba-hamba Allah. Kondisi, momen, dan kesempatan itu semua yang sulit didapatkan di tempat lain, dan sebelumnya bagi saya di Indonesia. Saya berharap kesempatan ini bisa saya optimalkan, kesempatan beribadah, memperdalam ilmu agama, waktu luang yang banyak, disamping untuk mencari bekal di dunia, juga mempersiapkan bekal dan investasi untuk kehidupan yang abadi, immortal life di akhirat.